Formulir Kontak

 

MENIMBA AIR UNTUK MEMENUHI EMBER




Sore ini ibu memintaku untuk mengambilkan air untuk keperluan memasak. Ah, rasanya aku malas sekali, baru saja aku selesai makan dan aku sedang kekenyangan, rasanya nikmat sekali bila aku duduk santai sambil menikmati angin yang menyejukkan badan ini. Tapi tak lama kemudian ada sebuah bisikan di hatiku, kapan lagi bisa bahagiain ibu? Akupun berfikir, ini waktunya membuat ibu bahagia. Dengan perlahan aku mengambil ember yang biasa aku gunakan untuk mengambil air di sumur umum itu yang ber jarak sekitar 50 meter dari rumah. Memang sebuah jarak yang dekat, tapi yang membuatku begitu berat utuk berjalan adalah sumur  itu dibawah rumah, jadi aku harus mendaki sambil membawa beban air di dalam ember mungkin sekitar 50 kg. Bagiku itu berat sekali, karna aku sebenarnya tidak terlalu kuat untuk membawa beban yang berat, karena fisikku lemah. Aku mudah sakit jika bekerja yang terlalu menggunakan otot. Tapi akupun berfikir belum tentu ibuku masih hidup besok hari, jadi itu seolah merupakan energi yang aku dapatkan untuk bisa memenuhi keinginan ibuku. Perlahan aku berlajalan menuju sumur sambil membawa dua buah ember di tanganku.
Setibanya aku di sumur tersebut aku merasa ingin buang air besar, maklum saja aku tadi makan terlalu banyak dan kekenyangan. Akhirya aku memutuskan utuk buang air besar dulu. Kebetulan di dekat sumur itu ada sungai tempat biasa orang di kampungku buang air besar. Setibanya aku di sungai aku melihat pemandangan di sekelilingku yang begitu indah dan aku rasakan udara yang sangat segar. Ya, di kampungku memang udaranya segar tidak ada polusi udara seperti layaknya udara di kota-kota besar. Aku pun merasa lebih senang menghirup udara yang segar ini. Dan tak lama kemudian aku kembali ke sumur tempat aku mengambil air tadi, aku segera mengisi penuh ember – ember yang tadi aku bawa. Setelah lima kali aku menuangkan air dari timba ke dalam emberku akhirnya penuh juga emberku yang satu. Sambil menimba lagi aku berfkir kalau saja timba yang aku tarik ini sebesar ember yang aku bawa pasti dengan sekali saja aku menimba emberku yang satu ini akan langsung penuh, dan aku tak akan menimba sampai lima kali lagi. Tapi aku juga lantas berfikir dan berkata dalam hati, mana mungkin aku kuat menarik timba dengan komposisi air sebanyak ember yang aku bawa ini, akukan lemah fisiknya pasti tenagaku akan terkuras banyak untuk menarik timba ini saja, lebih baik seperti ini aku menimba sedikit demi sedikit, toh akhirnya penuh juga  emberku, aku kan tak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan pekerjaan ini terasa ringan.
Akhirnya dengan sabar aku membawa emberku yang telah terisi air untuk ku bawa pulang kerumah. Dan setelah tiba di rumah, aku menuangkan air dari dalam emberku ke bak penampungan air untuk masak di dapur tempat biasa ibuku memasak. Telah habis dua ember air ku tuangkan dalam bak air itu tetapi belum juga penuh, dan aku pikir satu kali lagi aku mengambil air ke sumur bak ini akan penuh. Akupun mulai berjalan kembali menuju sumur. Tak lama kemudian emberku telah terisi penuh dengan air, akupun mulai membawa kembali emberku yang telah ter isi dengan air dengan perlahan. Setelah aku di tengah perjalanan aku berhenti sejenak karena kelelahan. Rasanya tenagaku hampir habis karna kelelahan mendaki dengan membawa beban air dalam ember ini. Kemudian dalam istirahatku untuk mengumpulkan lagi tenagaku aku berkata dalam hati, ah kalau saja ember ini bisa memuat air dua kali lipat dari ini pasti aku tak akan kelelahan dan bolak balik mengambil air ke sumur itu. Tetapi aku berfikir lagi secara logis, dan seolah fikiran logisku menjawab keluhan hatiku. Baru segitu aja udah cape! Apa lagi dua kali lipatnya mana mungkin bisa terbawa olehku, akupun tersadar kembali ternyata aku tidak bisa membawa beban yang begitu berat dan aku harus membawa yang ringan saja, dan bak air ku pun pasti akan penuh jua fikirku.
Dua menit berlalu lelahku pun mulai hilang dan tenagaku mulai terkumpul lagi, setelah aku yakin aku sudah kembali kuat untuk menggangkat air ini aku pun mulai beranjak dari istarahatku dan membawa emberku kembali ke dapur untuk aku tuangkan isinya ke dalam bak. Dan ternyata dugaan ku benar, bak air inipun telah penuh terisi air, malah ada tersisa mungkin sekitar seperempat ember. Dan sisanya aku letakkan di tempat biasa ibuku mencuci piring kotor, fikirku air ini bisa digunakan untuk menyuci piring kotor besok.
Selesai sudah pekerjaanku, dan tibalah saat untuk istirahat kembali  dan melepas lelah. Aku lau duduk di depan latop dan aku muai menghidupkan laptop untuk mendengarkan lagu favoritku. Sambil menikmati lantunan lagu d’masiv jangan menyerah aku kembali termenung dalam diamku, dan aku pun tersadar dan teringat kejadian tadi.
Ternyata allah telah menasihatiku secara tidak langsung. Memang, terkadang kita selalu tergesa-gesa, kita selalu ingin langsung mendapatkan suatu keinginan dengan instan, dan kita tidak  mau berusaha keras. Kita tidak memahami kemampuan kita seberapa, kita selalu menginginkan yang lebih dari pada apa yang kita bisa. Tetapi ember itu akan terisi air denga penuh jika kita mau mengisi dengan dikit demi sedikit, Sesuai dengan kemampuan yang kita miliki untuk menimba air dari sumur itu. Percayalah! Tak ada yang tak bisa. Walaupun itu di luar kemampuan kita teruslah berusaha walau pun kita tidak langsung bisa. Lakukanlah dengan sedikit demi sedikit jika kita lelah berhentilah sejenak lalu kita mulai lagi jika kita telah siap untuk melanjutkanya.
Seorang lionel messi tidak bisa langsung mendapatkan penghargaan pemain terbaik di dunia ketika dia memulai karir profesionalnya. Tetapi sedikit demi sedikit dia terus belajar dia terus mengembangkan kemampuanya hingga akhirnya bisa juga dia mendapatkan sebuah penghargaan tertinggi yaitu pemain terbaik di dunia. Di balik kesuksenya tersebut dia telah membayar dengan segala usaha kerasnya, tidak semata-mata dia dengan instan mendapatkanya.
Saya ibaratkan kita ini adalah  ember yang sedang di isi penuh dengan air yang di timba dari sumur, dan yang menimba itu saya ibaratkan usaha yang kita lakukan. Ketika kita lelah saya ibaratkan itu adalah sebuah kegagalan, dan kita harus berhenti sejenak. Yang saya maksudkan berhenti itu bukan kita berputus asa, dan berhenti berusaha saat kita gagal. Kita harus kembali belajar dari apa yang kita lakukan, kenapa kita bisa gagal? Apa kesalahan kita apa yang harus kita lakukan kedepanya agar kita jadi lebih baik lagi? Dan jangan sampai kita lupa bersyukur ke pada allah dan kita berdoa kepadanya. Dan mangkin kita bertanya, saya ini gagal saya ini di timpa masalah yang teramat berat, saya sudah berusaha, tapi saya gagal lagi. Lalu apa yang harus saya syukuri?
Ya, itulah sebenarnya yang harus kita syukuri, kita harus melihat sisi positifnya kita harus bersyukur karna allah sayang kepada kita, dia memberikan cobaan itu karna dia percaya dengan kita bahwa kita mampu untuk melewatinya. Allah sudah berbicara kepada kita melalui firmanya bahwa allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita hambanya. Itu  artinya kita adalah orag pilihan! Dan itulah yang harus kita syukuri tak semua orang mendapatkanya. Kemudian kita berdoa kepada allah karna ia pun telah memerintahkan kita untuk meminta kepadanya, dengan begitu akan menjadi sebuah energi kita dapatkan kembali untuk melanjutkan usaha kita memenuhi ember tadi dengan air yang kita tiba di sumur. Dan pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Percayalah, allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar. Allah itu maha melihat, maha menyayangi dan maha memberi. Sebuah pepatah berbunyi : “Man jadda wa jadda” siapayang bersunguh-sunguh pasti berhasil. Kata hanya perlu menunjukan kesungguhan kita kepada allah. Dengan kita selalu berusaha, berdoa dan bersabar sobat.
Sebuah kata bijak dari saya “lakukanlah sedikit demi sedikit untuk menggapai impian kita”. Hal besar itu adalah kumpulan dari hal-hal kecil. Kita tidak bisa memakan 1 ekor ayam panggang dengan sekali makan tapi kita harus memotongnya sesuai kemampuan kita untuk memakanya. Dan pada akhirnya kita akan dapat memakan ayam panggang tersebut dan kesuksesanpun akan kita dapatkan.

Total comment

Author

Unknown